[:id]Universitas Budi Luhur Dorong Inovasi dan Kreativitas Melalui Program “SENMI 2017″[:]

[:id]Universitas Budi Luhur Dorong Inovasi dan Kreativitas Melalui Program “SENMI 2017″[:]

[:id]Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu (SENMI 2017) di Universitas Budi Luhur (UBL), hari ini (22/4), di Jakarta. Rektor Universitas Budi Luhur yang baru saja dilantik pada Maret 2017 ini, Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto, mengatakan salah satu elemen penilaian untuk akreditasi Perguruan Tinggi ditentukan oleh kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat.

“Sebagai rektor Universitas Budi Luhur, saya berkewajiban untuk menjadikan universitas unggul dengan standard mutu tertinggi dalam akreditasi lembaga serta ranking pendidikan tinggi nasional dan dunia. Untuk mencapai itu, saya tidak bisa berdiri sendiri. Namun, juga harus melibatkan Civitas Akademika, baik mahasiswa, karyawan, dan dosen,” jelas Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto.

Sejatinya, dikatakan Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto, penelitian merupakan core atau strategi inti untuk menjadikan Universitas Budi Luhur unggul dengan standard mutu tertinggi sesuai dengan strategis Rencana Strategis Universitas Budi Luhur 2012-2020. “Tentu saja, dengan mengedepankan kreativitas dan inovasi lewat optimalisasi dukungan teknologi dan komunikasi,” tegasnya.

Ditambahkan Dr. M. Syafrullah, M.Kom, Ketua Panitia Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu 2017, seminar kali ini mengusung tema “Inovasi Teknologi dan Kewirausahaan dalam Memperkuat Daya Saing Bangsa”. Seminar tahun ini diikuti oleh peserta dari berbagai bidang ilmu. Antara lain, Ilmu Komputer dan Elektronika, Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Komunikasi, Ilmu Sosial Politik, serta Arsitekur. ” Terdapat 196 makalah yang masuk. Dari jumlah tersebut, ada 146 makalah yang dinyatakan lolos seleksi,” ucapnya.

Menurut  Prof. Dr. Ocky Karna Radjasa, M.Sc, Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia, dana riset yang dianggarkan pemerintah masih rendah, yakni hanya 0,2% per GDP.

“Sementara itu, Thailand dana riset per GDP mencapai 4,2%, Singapura mencapai 2,7%, dan Malaysia mencapai 1,2%. Tentu saja, dana penelitian dan riset sangat mempengaruhi inovasi dan kemampuan daya saing yang dihasilkan. Saat ini misalnya, baru ada dua kampus di Indonesia yang masuk peringkat 500 di dunia, yakni Universitas Indonesia dan ITB. Target kami, tahun 2017, kami harapkan ada tiga kampus yang masuk,” ujar Prof. Ocky yang juga Keynote Speaker di acara Seminar Nasional Multi Disiplin Ilmu (SENMI 2017) di Universitas Budi Luhur (UBL), hari ini (22/4), di Jakarta.

Harapannya, ditandaskan Prof. Dr. Sc. Agr. Ir. Didik Sulistyanto, “Melalui SENMI 2017, dapat lahir berbagai gagasan, kreativitas, inovasi, serta pengetahuan baru yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan agama. Melalui forum ini pula, kita dapat saling berinteraksi dan bertukar pikiran, di antaranya lewat diskusi panel yang dikelompokkan ke dalam masing-masing bidang, seperti ICT, ekonomi, sosial, dan komunikasi.”[:]