Seminar Kawruh Jiwa : Manusia Berbudi Luhur Dalam Perspektif Psikologi Ki Ageng Suryomentaram

Seminar Kawruh Jiwa : Manusia Berbudi Luhur Dalam Perspektif Psikologi Ki Ageng Suryomentaram

2015-02-17 11.21.46Manusiabudi luhur adalah “manusia tanpa ciri” yang tidak membedakan golongan, pangkat, kedudukan, kekayaan atau manusia universal, demikian Dr Nilam Widyarini dalam Seminar kawruh Jiwa dengan tema Manusia Berbudi Luhur Dalam Perspektif Psikologi Ki Ageng Suryomentaram yang diadakan Pusat Studi Kebudiluhuran, Universitas Budi Luhur . 

Selain Dr Nilam Widyarini, seminar juga menghadirkan pembicara dari komunitas kawruh jiwa yakni Dr Helly P  Soetjipto, dan Prof  Ir Suryo Hapsoro Tri Utomo, PhD. Kegiatan yang dibuka oleh Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti, Bpk Kasih Hanggoro ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, karyawan dan  praktisi dari luar kampus Budi Luhur . 

20150217_091442Dalam kesempatan itu Bpk Kasih Hanggoro mengatakan seminar kawruh jiwa ini bertujuan untuk menggali kearifan lokal terutama pemikiran-pemikiran Ki Ageng Suryomentaram yang terkait dengan nilai-nilai budi luhur. Lebih lanjut dikatakan berbudi luhur adalah orang yang dituntun oleh bagaimana menciptakan keseimbangan dan keharmonisan hidup sehingga diterima dalam masyarakat.

Dalam paparannya, kedua pembicara menjelaskan konsep dasar kawruh jiwa Ki Ageng Suryomentaram bahwa kepribadian manusia terdiri dari 4 ukuran. Ukuran I sebagai Juru Catat, Ukuran II Catatan, Ukuran III Kramadangsa, dan Ukuran IV Manusia Tanpa Ciri. 

 

2015-02-19 22.25.14Menurut Dr Helly, “Manusia sering merasa kesulitan karena tidak mengerti dirinya sendiri, untuk memecahkan kesulitan harus paham tentang diri sendiri dengan memacahkan berbagai kesulitan (ngudari reribet),”

2015-02-19 22.23.04Menurut Dr. Nilam, budi luhur tidak selalu seiring dengan bertambahnya usia, tergantung dorongan internal menjadi orang bajik (luhur) maupun proses belajar untuk jujur, bertanggung jawab , penuh kasih, peduli, suka menolong sesama, ikhlas dan sebagainya. 

Menurut Ki Ageng Suryomentaram, lanjutnya, manusia budi luhur adalah gambaran individu yang telah mencapai dimensi IV (intuisi) sebagai manusia tanpa ciri. Untuk menuju kearah tersebut dimensi IV, KAS mengajarkan melalui latihan-latihan yang disengaja untuk menghayati rasa orang lain, lanjut Nilam. 

20150217_090428kecilKetua Pusat Studi Kebudiluhuran Bpk Rusdiyanta menekankan bahwa implementasi nilai-nilai budi luhur bukan berada dalam ruang hampa, namun dibutuhkan enabling, empowering, dan protecting. Enabling artinya menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan nilai-nilai budi luhur berkembang. Empowering adalah memperkuat potensi masyarakat dengan penyediaan dan pemberian akses/peluang dalam berbudi luhur, sedang protecting merupakan perlindungan dan pemihakan kepada orang-orang yang menerapkan nilai-nilai budi luhur.

WhatsApp chat