[:id]Menjadi seorang Milyader Muda, Kenapa Tidak? [:]

[:id]Menjadi seorang Milyader Muda, Kenapa Tidak? [:]

[:id]
Menjadi bos meskipun dari usaha kecil adalah suatu kebanggaan, akan tetapi untuk mendirikan suatu usaha sekalipun kecil jika tanpa diiringi modal yang kuat, maka akan terasa sangat sulit. Modal tidak hanya berupa uang, tetapi juga ilmu yang mumpuni.

Ilmu berbisnis jika tidak dilandasi dengan pengetahuan yang cukup dari segi agama pun akan terasa bagai sayur tanpa garam.Untuk itu diperlukan kolaborasi antara pengetahuan umum dalam berbisnis yang juga dapat ditinjau dari sisi agama, seperti kolaborasi yang dilakukan oleh Fakultas Teknik dengan UKM LDK AL-AZZAM Universitas Budi Luhur. Keduanya mengadakan seminar yang bertajuk : 100 Days To Be A Millionaire Youngpreneur”, pada 21 Maret 2018, di Ruang Theater Universitas Budi Luhur.

Duet Dahsyat antara Gus Reza M. Syarif dan Dipa Rama membuat para peserta yang hadir lebih bersemangat lagi untuk menjadi pebisnis muda. Seeperti pesan yang disampaikan oleh Bapak Rektor UBL, Prof. Dr. sc.agr.Ir. Didik Sulistyanto, “ Jangan hanya unggul sebagai konsumen tetapi harus unggul sebagai pencipta”.

Hal serupa juga disampaikan oleh Bapak Dekan Fakultas Teknik Sujono, MT, “Bahwa sebagai mahasiswa haruslah bisa menjadi pengusaha muda, mau sekecil apapun usaha yang dilakoninya, haruslah usaha yang terbebas dari riba. Melalui seminar kali ini, kiranya para peserta dapat menggali peluang ilmu dari para masternya.”

Pada siang itu, Guz Reza, yang bertindak sebagai pembicara pertama terus memberikan semangat kepada para peserta untuk segera berbisnis. Menjual apa saja yang dapat dijual, karena menjual itu sebagai ujung tombak bisnis. Sebagai penjual, si pebisnis haruslah mempunyai keterampilan menjual dan tentunya ada target yang harus dicapai untuk memperoleh keberhasilan dalam berbisnis.

Ada beberapa target dalam hidup yang harus diterapkan seperti kemerdekaan finansial sebelum menginjak usia ke-40 tahun, sebagai pebisnis harus mempunyai “brand” karena sebagai pebisnis haruslah menjadi magnet agar siapa saja dapat tertarik dengan “brand” yang di tawarkan ke publik.

Untuk dapat mencapai target-target tersebut ada pola pikir yang semestinya menjadi pegangan dalam berbisnis, yaitu mendobrak 5 kemiskinan mental. Apa saja 5 kemiskinan mental itu, yaitu : takut bermimpi jadi jutawan; takut menghadapi resiko yang tinggi; takut repot atau sibuk; takut mengalami kerugian; dan takut lalai beribadah kepada Tuhan YME.

Sebagai pebisnis muda ketakutan seperti yang disampaikan di atas adalah hal yang lumrah, untuk itu “hiduplah seperti kita makan”, ujar Dipa Rama, pembicara kedua yang juga sebagai salah satu Miyader muda di Indonesia. Kebutuhan untuk makan haruslah dipenuhi, rezeki datangnya dari Tuhan tetapi usaha adalah manusia yang melakukannya.

Respon semangat yang dihadirkan oleh para peserta bukan hanya dari jumlah penanya-nya tetapi juga betapa banyaknya peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Diharapkan acara serupa dapat memberikan ilmu yang lebih lagi dalam berbisnis. Usia muda jangan dijadikan usia yang sia-sia tetapi adalah usia emas untuk mendapatkan keberhasilan dan kesejahteraan di usia tua nantinya.

[:]

WhatsApp chat