[:id]LDK Al-Azzam Universitas Budi Luhur selenggarakan Budi Luhur Muslim Conference (BLMC) 2017[:]

[:id]Dewasa ini, isu SARA  menjadi momok menakutkan akan terjadinya keretakkan kebhinekaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Indonesia yang diketahui memiliki berbagai kemajemukkan, baik dalam Suku, Agama, Ras dan Golongan. Perlu adanya konsern dalam pemecahan permasalahan yang sangat sensitive ini, terlebih kepada para pemuda sebagai penerus perjuangan para pahlawan yang telah menumpahkan darahnya demi kemerdekaan Indonesia.

Ajang Budi Luhur Muslim Conference (BLMC) 2017, menjadi agenda besar tahunan yang diselenggarakan oleh LDK Al-Azzam Universitas Budi Luhur. Dimana selama ini isu SARA sudah banyak beredar dan menjadi alasan utama dimulainya suatu perpecahan, padahal hakikatnya SARA adalah kemajemukan yang menjadi kekuatan utama bangsa ini.

Ketua Panitia BLMC 2017 M. Khidrotul Hidayat, mengatakan tema Peran Pemuda Islam dalam Menjaga Kebhinekaan, bertujuan untuk menumbuhkan kesatuan pemikiran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. “Diharapkan baik dari sisi pemuda yang diwakili oleh pelajar SMA dan mahasiswa, dari sisi aktivis sosial yang diwakili oleh UKM dan ORMAWA, dan juga dari sisi aktivis keagamaan yang diwakili oleh FSLDK JADEBEK, muncul kesatuan pemikiran,” ujarnya.

Acara BLMC yang berlangsung pada tanggal 22 Mei 2017, turut dihadiri Alwi Alatas, M. H. Sc (Sejarawan Muslim), Akmal Sjafril M.Pd.I(Aktivis Indonesia Tanpa JIL), dan Dr. H. Arya Sandhiyudha, S.Sos. M.Sc (Direktur Eksekutif MaCDIS).

Hasil dari Konferensi kali ini, menghasilkan tiga pokok kesepakatan, antara lain :

  1. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, oleh karena itu sudah semestinya Islam menjadi pemersatu bangsa sebagaimana yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh terdahulu yang berusaha membangun kemerdekaan negara ini.
  2. Islam adalah agama yang cinta damai, berbagai aksi damai yang dilakukan sebelumnya didasarkan pada kecintaan terhadap Allah dan kecintaan terhadap negara ini. Aksi Bela Islam dan Al-Qur’an juga bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI, jangan sampai dengan adanya aksi ini malah memecah belah persatuan dan kesatuan antar suku, agama, ras dan adat yang didasarkan pada prinsip saling toleransi satu sama lain, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah toleransi yang memiliki batasan antar komponennya.
  3. Sebagai seorang aktivis keagamaan, tidak boleh hanya berfokus pada ilmu agama saja, namun juga harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas terhadap cakrawala dunia. Melebarkan pemikiran dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan cara agar dakwah tetap bisa dilakukan dimanapun dan kapanpun. Dan semboyan bhineka tunggal ika harus tetap dipertahankan untuk bisa mensyiarkan agama Islam dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

[:]

WhatsApp chat