Bank Sampah Budi Luhur Daur Ulang ‘Sampah’ Jadi Permadani Raksasa

Bank Sampah Budi Luhur menciptakan permadani raksasa yang terbuat dari daur ulang sampah plastik menjadi karpet besar.

Permadani ini menggunakan 300.000 sampah plastik kemasan minuman sachet yang diperoleh dari lingkungan Universitas Budi Luhur saat mengadakan operasi gajah dan semut.

Hj. Tutik Sri Susilowati yang biasa disapa Umi selaku pengurus bank sampah Budi Luhur dan Ibu Inggit Musdinar Sayekti Sihing, S.T, M.T (Bu Inggit) selaku dosen Arsitektur Budi Luhur optimistis bahwa permadani daur ulang tersebut akan menjadi permadani terbesar yang ada di Indonesia.

Pada 12 April 2019, Bank Sampah Budi Luhur mengadakan acara lomba diikuti 27 peserta terdiri dari para aktivis lingkungan dan masyarakat di wilayah mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) Budi Luhur. Lomba ini diadakan di gedung Grha Mahardika Bujana (auditorium) Universitas Budi Luhur.

Dosen Sedang Mendaur Ulang Sampah. FOTO: Nur Siti Fatimah

Umi mengatakan, lomba ini tidak akan terealisasikan, namun dengan adanya dukungan dari segala pihak diupayakan terealisaikan dan berjalan dengan baik dan lancar. Dengan tema “Mengatasi Masalah Sampah” menjadikan masyarakat di sekitar Universitas Budi Luhur lebih pandai dalam mendaur ulang sampah plastik.

Proses dari pembuatan permadani daur ulang dimulai dari pengkiloan sampah plastik, pengguntingan, pencucian, pengeringan, pelipatan dan perangkaian.

Para peserta yang mengikuti lomba membuat permadani dari ukuran 2 x 2 m2 hingga 3 x 3 m2 dengan beragam ukuran dan motif.

Tujuan utama membuat permadani yaitu mengurangi sampah kemasan minum plastik yang sangat banyak dibutuhkan untuk membuat permadani.

Untuk membuat permadani dengan ukuran 2 x 2 meter saja membutuhkan kurang lebih 15 ribu lembar kemasan plastik. Maka dari itu, bank sampah juga turut mengajak para penggiat lingkungan untuk turut berkontribusi dalam mengolah limbah plastik ini.

Seluruh hasil lomba dirangkai menjadi satu kesatuan sehingga menghasilkan diameter yang di luar ekspetasi yakni 100,825 m2.

Mahasiswa Sedang Mendaur Ulang Sampah. FOTO: Nur Siti Fatimah

Umi mengatakan, target awal yakni 100 m2 dan ternyata hasil yang di dapatkan melebihi dari target awal. Kesulitan saat merangkai salah satu tantangan baginya, bu inggit, dan teman-teman yang turut membantu.

Karena, ukuran dan jenis kemasan yang digunakan setiap tim untuk membuat permadani berbeda-beda. Ada beberapa cara merangkai permadani dari bahan baku sampah plastik yang membuat proses penyambungan satu dengan yang lainnya terasa rumit dan butuh ketelitian penuh.

Selain itu, kontribusi para peserta lomba diharapkan terbnetuk 27 permadani yang bila disatukan menjadi 90 meter dan belum melalui proses disambungkan. Setelah melalui proses penyambungan dengan ketelitian dan kesabaran selama dua bulan, maka terciptalah permadani seluas 100,825 m2.

“Bahwa dengan adanya permadani daur ulang itu, ternyata ini adalah salah satu solusi untuk masyarakat yang tidak lagi membuang sampah, tapi dipilah. Semakin banyak yang dipilah, semakin banyak kita bisa menciptakan berbagai macam karya yang kita inginkan salah satunya permadani itu dengan banyak manfaat,” kata Umi.

Mahasiswa Sedang Merapihkan Permadani. FOTO: Nur Siti Fatimah

Ibu Tutik (Umi) dan Ibu Inggit berencana memberikan permadani kepada orang-orang yang membutuhkan dengan ukuran 3 x 3 m2. Karena, berbagi kepada sesama adalah salah satu ciri khas Universitas Budi Luhur. Tujuannya agar masyarakat lebih mengetahui cara pemanfaatan sampah plastik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih memperkenalkan Budi Luhur sebagai kampus yang memilik sifat berbudi luhur.

DKI Jakarta menerima sampah plastik sebanyak 1.900 sampai 2.400 ton setiap harinya yang membutuhkan waktu begitu lama untuk terurai. Dengan diolahnya sampah plastik di bank sampah Budi Luhur maka sampah plastik menjadi bermanfaat.

Penulis: Nur Siti Fatimah

Editor: SA